—-dan ternyata kau jauh lebih beruntung dari mereka
Perhatianku tertuju pada mereka yang berlalu lalang di hadapanku..di lorong gerbong-gerbong kereta api kelas bisnis Fajar Utama jurusan Yogyakarta-Jakarta. Mereka yang berteriak-teriak menawarkan barang dagangannya kepada para penumpang KA. Hari itu..aku dan dua teman laki-laki ku sedang dalam perjalanan kembali ke Jakarta setelah cukup puas menghabiskan 5 hari waktu liburan tengah semester kami di Jogja.
“Sarapan..sarapan..,sarapannya mbak..mas…”, suara parau seorang ibu separoh baya menawarkan nasi dagangannya. Ku palingkan wajahku pada sumber suara. Ya Tuhan…melihat sosok pemilik suara itu membuat pikiranku menerawang jauh ke depan…keluar…menembus kaca jendela KA…terus keluar..jauh..melewati hamparan hijau persawahan yang kami lintasi.
Usia Ibu itu pastilah sudah lebih dari separuh abad. Wajahnya yang mulai tampak keriput penuh dengan cucuran peluh. Sesekali kain pengikat dagangan digunakannya untuk menghapus keringat yang membasahi wajah hingga lehernya. Dadaku sesak melihat pemandangan itu. Seorang ibu tua atau bahkan mungkin lebih sesuai jika aku menyebutnya nenek, berpindah dari satu gerbong ke gerbong lainnya..berteriak-teriak menawarkan bungkusan nasi uduk yang ia bawa demi mendapatkan sejumlah rupiah.
Ya Tuhan..nenek itu..di mana suaminya? Di mana anak-anaknya? Cucu-cucunya?? Di mana keluarga yang seharusnya menjaga dan merawat nenek itu di rumah tetapi justru membiarkannya untuk tetap membanting tulang di usianya yang sudah tak layak lagi untuk bekerja. Sebegitu teganya-kah mereka membiarkan istri-ibu-nenek mereka berjalan dari gerbong satu ke gerbong lain..dari satu kereta ke kereta lain..juga dari stasiun satu ke stasiun berikutnya..sepanjang hari..sambil membawa sekeranjang besar nasi bungkus..berteriak-teriak dengan suaranya yang parau karena kelelahan.
Atau juga seorang perempuan muda yang sedang hamil tua..membawa sekeranjang aneka minuman ringan..berjalan menyusuri lorong gerbong KA..berteriak-teriak..juga untuk menjajakan dagangan. Ya Tuhan…perih hati ini melihatnya. Suami macam apa yang tega membiarkan istrinya yang tengah hamil bekerja seberat itu??
Lagi-lagi…di mana suaminya?? Di mana keluarganya yang lain? Mengapa mereka membiarkan orang-orang yang tak layak bekerja itu untuk tetap berjuang mengais rezeki? Tak adakah pilihan lain bagi mereka selain membiarkan wanita-wanita cantik itu berada di dalam gerbong KA ini menghadapi kerasnya kehidupan seorang diri demi sesuap nasi untuknya dan keluarganya??
Ya Tuhan..siapa yang semestinya disalahkan atas ini semua..??
Bukan!! Bukan suami-suami mereka..bukan pula anak-anak mereka..juga bukan pula cucu-cucu mereka. Ya..memang bukan. Aku yakin mereka pun pasti tidak menginginkan istri-ibu-nenek mereka melakukan pekerjaan seberat ini. Ya, pasti…karena sekarang aku berpikir kebutuhan ekonomi lah yang menuntut mereka. Tuntutan agar tetap bertahan hidup. Tuntutan untuk tetap berjuang menghadapi kerasnya dunia. Ya, karena memang dunia itu keras. Sekali lagi, dunia itu keras. Tak mudah untuk bertahan hidup. Ya..mestinya aku mau melihat dan menyadari hal ini sejak dulu…
Tak pernahkah kau membayangkan dirimulah yang sedang berjualan nasi bungkus dan air mineral di gerbong depan itu saudaraku?? Dirimulah yang sudah beberapa malam tak tidur dan menghabiskan waktu untuk berpindah dari satu stasiun ke stasiun lain..dari satu kereta ke kereta lain..menyusuri gerbong antar gerbong..berteriak menawarkan dagangan yang kau bawa kepada para penumpang yang hanya sedikit dari mereka mau mempedulikanmu?? Pernahkah kau membayangkannya?? Demi Tuhan…saat ini aku sedang membayangkannya…
Kulihat lebih dekat diriku..kulihat baju dan sepatu yang sedang kukenakan..telepon seluler yang tak lepas dari genggaman..juga tas slempang yang ada di pangkuanku. Ya Tuhan..betapa beruntungnya. Sungguh, aku sangat beruntung…paling tidak dibandingkan dengan mereka yang sedang berlalu lalang di depanku. Aaah..begitu tak bersyukurnya aku. Bukankah memang seharusnya aku hanya boleh melihat ke bawah dalam hal ini?? Ya, lihat ke bawah. “Lihatlah orang-orang yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan dirimu Fiit..!!!”. Lihatlah mereka yang harus berjuang keras untuk bertahan hidup. Wanita-wanita itu..tak peduli dengan kondisinya yang memprihatinkan…melakukan pekerjaan yang tidak selayaknya ia kerjakan. Anak-anak kecil itu..waktu yang seharusnya dihabiskannya di sekolah justru ia habiskan di dalam kotak besi yang pengap ituu..menengadahkan tangan..mengharapkan belas kasihan manusia-manusia penghuni kereta.
“Ya Tuhan…aku mohon ampun atas ke-tidak bersyukur-an ku selama ini. Sungguh..aku manusia yang lemah dan lalai…”
Dan air mata pun tak bisa berhenti mengalir sepanjang perjalanan itu..